Beranda > Informasi > Menekan Populasi Serangga, Musim Hujan Bukan Halangan

Menekan Populasi Serangga, Musim Hujan Bukan Halangan

Nyamuk Culex sp (kiri atas); Lalat hitam(kanan atas); Lalat rumah (kiri bawah); Kecoa (kanan bawah)
(Sumber : en.wikipedia.org)

Saat musim hujan datang, hal lumrah jika di sekitar kandang banyak terlihat larva (ulat,red) lalat merayap dari tumpukan feses di bawah kandang menuju tanah yang lebih kering di sekitar kandang. Larva tersebut akan berganti kulit menjadi pupa (kepompong,red). Dari pupa tersebut akan keluar lalat dewasa yang langsung terbang mencari makanan. Juga, banyaknya jentik-jentik nyamuk di genangan air di sekitar peternakan ataupun berkeliarannya kecoa di sela-sela kandang mulai maghrib hingga subuh.

Dampak Adanya Serangga di Petenakan

Cerita siklus hidup lalat dan juga kejadian lain di atas, tentu sudah sangat kita kenal terutama saat musim hujan. Hal terpenting dari cerita itu adalah bagaimana menanganinya agar populasinya (serangga,red) dapat ditekan, terutama saat musim hujan. Cerita di lapangan menunjukkan bahwa target di atas sulit dicapai. Salah satunya karena serangga memiliki beberapa kelebihan antara lain:

  • Daya adaptasi serangga yang sangat baik.Lebih jauh, ternyata peternakan juga merupakan lingkungan ideal bagi serangga untuk menetap. Adanya tumpukan feses, rerumputan yang rimbun, drainase yang kurang terencana, keberadaan makhluk berdarah panas seperti ayam dan manusia sebagai sumber nutrisi bagi serangga penghisap darah serta bahan bangunan dari kayu yang cocok sebagai habitat serangga. Kesemuanya itu memang merupakan lingkungan ideal bagi serangga.

Kecoa, salah satu serangga yang memiliki daya tahan luar biasa, saking sulitnya dieliminasi sampai dikatakan jika manusia mati karena perang nuklir, maka kecoa akan menjadi penguasa di bumi ini (en.wikipedia.org). Pendapat ini didasari data bahwa kecoa ialah satu di antara sedikit makhluk hidup yang tahan terhadap radiasi nuklir (kecoa tahan 10 kali radiasi nuklir dibanding manusia). Tidak hanya sampai di situ, kecoa mampu bertahan hidup tanpa makan selama 3 bulan atau tanpa minum selama 1 bulan. Kecoa juga masih bertahan hidup meski sudah tenggelam selama 30 menit di dalam air ataupun di lingkungan beku, meski kecoa sebenarnya lebih menyukai lingkungan yang hangat. Sehingga jika peternakan sudah terinfestasi kecoa maka sulit mengeliminasinya.

  • Daya jelajah serangga yang luas. Lalat rumah (Musca domestica) mampu terbang hingga 32 km, meskipun pada kenyataannya hanya 1,6-3,2 km. Daya jelajah yang luas ini menimbulkan problema tersendiri karena pengendaliannya di peternakan harus dilakukan secara meluas hingga lingkungan sekitar peternakan.
  • Siklus hidup yang cepat dan kemampuan berkembang biak yang fantastis terutama di musim hujan, contohnya lalat rumah. Serangga ini hanya membutuhkan 7-10 hari untuk melangsungkan satu siklus hidup (telur-dewasa). Rata-rata seekor lalat dewasa mampu hidup selama 15-25 hari. Dan dalam 3-4 hari, seekor lalat ternyata mampu menghasilkan telur sebanyak 500 butir.

Larva lalat sebanyak ini bisa saja hanya berasal dari satu ekor lalat
(Sumber : Dok. Medion)

  • Kemampuan membawa bibit penyakit tanpa menjadi sakit (vektor, red) baik secara mekanik maupun biologis. Ini adalah hal yang patut diwaspadai dari seekor serangga. Berdasarkan penelitian Prof. Drh. Hastari Wuryastuty, M.Sc, PhD (2005), dinyatakan bahwa seekor lalat rumah dengan berat 20 mg mampu membawa virus sebanyak 10% berat tubuhnya atau 2 mg. Dengan kata lain, seekor lalat mampu menulari 2000 ekor ayam karena satu gram virus ditengarai bisa menginfeksi 1 juta ekor ayam.

Lalat lain seperti Simulium sp. (lalat hitam/ black fly) adalah vektor penyakit malaria like yang disebabkan oleh Leucocytozoon sp. Lalat hijau atau Chrysomia sp., yang sering ditemukan bersama lalat rumah, ternyata memiliki peran serupa dengan lalat rumah. Keduanya berpotensi menyebabkan miasis (belatungan) di ayam.

Serangga lain yaitu nyamuk seperti Culex sp. dan Aedes sp. (berbeda dengan malaria pada manusia yang disebarkan oleh Anopheles sp.), tentu sudah dikenal sebagai penyebar penyakit malaria di ayam. Kecoa ternyata mampu menjadi vektor cacing pita ayam seperti Raillietina sp. dan Hymenolepis sp.

Penanganan Serangga

Alhasil, peternak mesti bersiap-siap menghadapi musim hujan ini. Selain karena faktor penyakit, peningkatan populasi serangga ini acapkali menyebabkan kerenggangan sosial antara peternakan dengan masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu, ada baiknya Anda melakukan beberapa upaya di bawah ini.

Fokus penanganan serangga ada baiknya diarahkan pada fase larva. Alasannya adalah lebih mudah dimatikan, daya jangkau larva yang tidak terlalu luas dan mudah terlihat oleh mata telanjang. Ambil contoh fase larva lalat hijau dan lalat rumah yang lebih sering kita temukan di tumpukan feses. Lalu jentik (larva nyamuk,red)Culex sp. yang sering kita temukan di genangan air di peternakan.

Untuk kecoa dan beberapa serangga yang tidak memiliki fase larva (metamorfosis sempurna,red), target penanganan tetap diarahkan pada fase dewasa dengan alasan lebih mudah ditemukan dan terlihat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah :

  • Perubahan lingkungan

Tujuannya ialah mengubah lingkungan peternakan menjadi tempat yang tidak ideal bagi serangga untuk menetap. Penanganan serangga bisa secara khusus atau sesuai jenis serangga dan atau secara umum yaitu perbaikan manajemen tata laksana peternakan.

Secara khusus, misalnya terhadap lalat. Karena lalat senang dengan tumpukan feses maka pembersihan feses harus dilakukan minimal seminggu sekali yang didasarkan pada daur hidup lalat yaitu 7-10 hari. Upayakan pembersihan feses lebih sering saat musim hujan agar feses tidak basah. Untuk nyamuk, dapat dilakukan tindakan mencegah genangan air yang terbuka misalnya menutup bak penampungan air, ember dan sebagainya. Untuk kolam, masukkan ikan ke dalamnya misalnya gurami dan nila. Keduanya suka memakan jentik nyamuk sehingga populasi nyamuk bisa ditekan.

Penanganan secara umum misalnya melakukan manajemen tata laksana kandang, air dan pakan yang baik. Ransum dengan kandungan protein kasar dan garam yang tinggi dapat mendorong ayam minum lebih banyak sehingga feses ayam menjadi lebih encer (basah). Penambahan kapur gamping ke tumpukan feses, selain memperbaiki pH juga memperbaiki daya serap air sehingga feses lebih kering. Lebih jauh, tindakan penanganan tata laksana hampir serupa dengan yang dianjurkan di artikel utama Info Medion edisi ini.

Feses basah dapat dibantu pengeringannya melalui penaburan kapur ke feses dan Larvatoxmelalui pakan
(Sumber : Dok. Medion)

  • Aplikasi antiparasit

Larvatox, efektif untuk menekan populasi lalat, dapat diberikan melalui pakan untuk menghambat pertumbuhan larva lalat menjadi pupa. Selain itu, Larvatox juga memperbaiki daya serap air di feses sehingga feses lebih kering. Aplikasi Kututox-S secara spray dalam kandang kosong yang tertutup lalu didiamkan selama 3 jam dapat di-jadikan alternatif pengendalian kecoa dan nyamuk. Untuk kandang yang berisi, dapat ditaburkan Kututox di depan celah-celah kayu yang diduga adalah sarang kecoa. Pemberian insektisida lain dapat pula dilakukan, tentu dengan mengikuti anjuran pemakaian agar efektivitasnya optimal.

  • Peningkatan daya tahan tubuh ayam

Meningkatkan daya tahan tubuh dapat dilakukan dengan vaksinasi dan pemberian multivitamin. Tindakan vaksinasi akan menyiagakan tanggap kebal (antibodi) spesifik ayam terhadap bibit penyakit sehingga saat bibit penyakit menyerang, tubuh ayam sudah memi-liki perlindungan. Contohnya ialah Medivac AI, yang akan memicu tanggap kebal terhadap penyakit AI. Pemberian multivitamin akan meningkatkan daya tahan tubuh ayam. Fortevit dan Vita Stress dapat diberikan selama 3 hari saat jumlah serangga meningkat.

Serangga berkurang, lingkungan terlihat bersih dan produksi pun lebih optimal. Semoga rekomendasi ini bisa bermanfaat untuk Anda. Salam sukses!

Sumber : http://info.medion.co.id

Kategori:Informasi
  1. Angga setya
    Sabtu, 4 Juni 2011 pukul 7:39 pm

    Bisa minta penjelasanx tentang penyakit dan gejalax.?,agar kami bs mengantisipasi sejak dini.

  2. Senin, 6 Juni 2011 pukul 4:49 am

    Tanda yg paling kelihatan ialah snot atau pilek, ayam akan lemah dan lesu serta dalam hidung akan mengeluarkan lendir seperti pilek

  3. Angga setya
    Senin, 13 Juni 2011 pukul 6:45 pm

    Apakah ada obat untuk mosquito.pasalx di lokasi ternak kami terlalu banxk nyamuk(pinggir hutan)

  4. Angga setya
    Senin, 13 Juni 2011 pukul 6:47 pm

    Apakah ada obat untuk mosquito.pasalx di lokasi ternak kami terlalu banxk nyamuk(pinggir hutan).mhon infox.

  5. Minggu, 19 Oktober 2014 pukul 3:58 am

    I go to see each day some web pages and information sites to read content,
    but this blog provides feature based articles.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: