Beranda > Informasi > Biosekuriti Bukan Hanya Desinfeksi

Biosekuriti Bukan Hanya Desinfeksi

Tahun telah berganti, pada tahun 2009 lalu masih banyak permasalahan yang menghadapi peternakan di Indonesia. Dari masih munculnya penyakit-penyakit lama seperti penyakit pernapasan (CRD, korisa), gumboro,Newcastle disease (ND), avian influenza (AI) dll. Adanya isu global warming (perubahan cuaca akibat pemanasan global) yang berdampak pada perubahan cuaca yang sangat fluktuatif sehingga mengakibatkan pemeliharaan ternak harus ekstra ketat/ intensif. Belum lagi virus AI dan IB yang bermutasi karena vaksinasi yang kurang optimal atau praktek biosekuriti yang kurang baik, sehingga berakibat pada penanganan kasusnya menjadi lebih sulit.

Vaksinasi, pengobatan dan praktek manajemen pemeliharaan yang baik merupakan beberapa tindakan yang dilakukan untuk pencegahan dan penanganan penyakit. Selain ketiga hal tersebut, hal penting lain yang juga harus kita lakukan adalah biosekuriti. Penerapan biosekuriti yang ketat dan berkelanjutan sangat menentukan keberhasilan pengendalian penyakit. Dan hal tersebut yang melatarbelakangi pada tanggal 15-17 Desember 2009 yang lalu, PT Medion menyelenggarakan Diklat ke-100 yang membahas mengenai “Biosekuriti”, yang disampaikan oleh Mr. Percy Hawkes, DVM, Bp. Bimo Wicaksana, DVM dan Bp. Baso Darmawan, DVM perwakilan Animal & Plant Health Inspection Service (APHIS)–USDA. Di Indonesa APHIS berperan besar dalam menyebarluaskan dan membantu dalam penerapan biosekuriti untuk pengendalian kasus-kasus penyakit seperti gumboro, AI, ND, salmonellosis, mikoplasma, dll.

Percy W. Hawkes, DVM, Bimo Wicaksana, DVM dan Baso Darmawan, DVM perwakilan Animal & Plant Health Inspection Services (APHIS)-USDA

(Sumber : Dok. Medion)

Lama berkecimpung dalam penerapan biosekuriti, para pembicara mengarisbawahi bahwa biosekuriti bukan hanya sekedar desinfeksi. Lebih jauh, dijelaskan bahwa biosekuriti berasal dari kata biosecurity dan terdiri dari dua kata yaitu bio (hidup) dan security (pengamanan atau perlindungan). Atau secara harfiah dapat bermakna pengendalian atau pengamanan terhadap makhluk hidup (dalam hal ini ternak/unggas). Dalam budidaya unggas biosekuriti merupakan serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mencegah penyakit masuk ke dalam peternakan ataupun menyebar keluar peternakan. Semua kegiatan dilakukan dengan tujuan memisahkan inang (unggas) dari bibit penyakit dan sebaliknya.

Tentu kita masih ingat 3 konsep biosekuriti dalam pemeliharaan unggas yaitu biosekuriti konseptual (perencanaan lokasi kandang), struktural (manajemen kandang contoh arah, bentuk dan jarak kandang) dan operasional (manajemen pemeliharaan contohnya brooding, masa istirahat kandang, sanitasi kandang). Pada Diklat ke-100 yang lalu, Bp. Baso Darmawan, DVM menambahkan ada 3 konsep pendukung biosekuti yang lainnya yaitu isolasi, pengaturan lalu lintas dan sanitasi (pembersihan & desinfeksi).

1. Isolasi

Merupakan serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk memisahkan ayam dari serangan kuman patogen penyebab penyakit. Isolasi ini bertujuan untuk mencegah bibit penyakit masuk ke dalam suatu farm dan menyebar keluar dari farm. Manajemen peternakan (manager/ pemilik farm) sangat berperan penting dalam penerapan isolasi ini, contohnya dalam penetapan area bersih (wilayah yang harus terjaga dari kemungkinan cemaran/ penularan penyakit) dan kotor (wilayah yang kemungkinan banyak cemaran bibit penyakitnya).

Skema penentuan area kotor dan area bersih

(Sumber : APHIS – USDA)

Contoh penerapan isolasi lainnya yaitu penetapan akses karyawan atau pengunjung yang boleh masuk ke area farm, penerapan one age farming (peternakan satu umur) pada farm ayam layer atau penerapan pemeliharaan ayam broiler sistem all in all out.

2. Pengaturan lalu lintas

Upaya pengaturan lalu lintas orang, peralatan, barang atau kendaraan tamu agar tidak menyebarkan bibit penyakit masuk ke dalam peternakan. Pengaturan lalu lintas ini berarti kita harus bisa mengatur kapan DOC/ bibit, pakan, sapronak (obat, vaksin, peralatan peternakan), litter/ sekam, kotak telur masuk ke dalam farm. Begitu juga sebaliknya kita harus bisa mengatur bagaimana penanganan atau pengeluaran bangkai ayam, litterkeluar dari lingkungan kandang serta kapan ayam harus dipanen atau diafkir. Pembatasan jumlah orang dan kendaraan yang masuk ke dalam lingkungan kandang juga masuk dalam konsep kedua ini.

3. Sanitasi (pembersihan dan desinfeksi)

Tindakan yang sering dilakukan peternak untuk menjaga farm dari infeksi penyakit adalah sanitasi. Sanitasi merupakan tindakan untuk membunuh patogen atau bibit penyakit. Sanitasi yang paling sering dilakukan peternak adalah dengan desinfeksi/ penyemprotan kandang menggunakan desinfektan. Dengan asumsi desinfektan tersebut akan membunuh bibit penyakit di kandang atau lingkungan kandang. Sebenarnya tindakan sanitasi tidak hanya berkaitan dengan desinfeksi saja, namun ada banyak kegiatan lain yang merupakan sanitasi, seperti sebelum pekerja/tamu masuk ke dalam kandang mencuci tangan menggunakan sabun, menggunakan baju khusus untuk bekerja, menggunakan alas kaki (sandal/sepatu boots) khusus untuk masuk ke dalam kandang, celup alas kaki dalam desinfektan (Antisep, Medisep). Hal-hal sederhana itu sebenarnya juga dapat meminimalkan terjadinya penularan penyakit.

Menggunakan baju dan alas kaki khusus dapat meminimalkan penularan penyakit

(Sumber : Dok. Medion)

Untuk mengoptimalkan hasil desinfeksi, peternak harus melakukan pembersihan (cleaning). Pembersihan ini akan menghilangkan zat/material asing yang sering menempel atau berada di kandang. Sebagai contoh debu, tanah, litter yang menempel di lantai kandang, materi-materi organik seperti feses, leleran ingus, darah dan mikro-organisme. Materi organik yang masih berada di sekitar kandang (lantai atau tembok kandang) dapat mempengaruhi kerja desinfektan golongan quats (Medisep, Zaldes) dan halogen (Antisep, Neo Antisep, Desinsep, kaporit) sehingga kurang efektif bekerja. Pendukung desinfeksi yang lainnya yaitu dosis pemakaian desinfektan harus tepat, jumlah larutan harus disesuaikan dengan luasan kandang dan waktu kontak desinfektan harus sesuai karena akan mempengaruhi desinfektan dalam membunuh bibit penyakit.

Agar memudahkan pelaksanaannya, manajemen farm harus membuat perencanaan dan konsep biosekuriti yang disesuaikan dengan kondisi farm. Serta melibatkan peran aktif semua elemen peternakan (pemilik, manajer maupun anak kandang). Setelah dilakukan, perlu juga dilakukan penilaian (audit) terhadap biosekuriti yang telah diterapkan. Hal ini untuk menjamin biosekuriti telah diterapkan dengan baik.

Sesungguhnya biosekuriti merupakan perubahan kebiasaan, karena peralatan dan bahan yang digunakan dalam penerapan biosekuriti telah tersedia. Sehingga tinggal seluruh elemen peternakan mau menerapkan prinsip-prinsip biosekuriti secara sederhana namun konsisten (terus menerus) dan disiplin.

Sumber : http://info.medion.co.id

Kategori:Informasi
  1. Minggu, 31 Juli 2016 pukul 11:36 am

    Spot up with this write-up, I seriously think this site requirements additional consideration. I’ll more likely once again to study additional, many thanks for that information.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: