Beranda > e-book > Thiamin (Vitamin B1)

Thiamin (Vitamin B1)

Senin, 26 Mei 2008

chickaholic-48Eijkman (1897), seorang dokter bangsa Belanda dan perwira kesehatan yang bekerja di laboratorium rumah sakit di Jakarta dan yang kemudian menerima hadiah Nobel dalam ilmu kedokteran telah mengadakan suatu pengamatan penting mengenai beri beri. Pada suatu hari, ketika sedang berjalan-jalan di halaman rumah penjara. Eijkman memperhatikan bahwa ayam-ayam yang berkeliaran di sekitar rumah penjara tersebut kelihatannya menderita suatu kelumpuhan, sama seperti halnya pada pasien yang ia kunjungi. Kemungkinan ayam tersebut menderita beri-beri seperti yang diderita pasien-pasien yang ada di dalam penjara. Ayam-ayam tersebut memperoleh sisa makanan dari orang-orang yang dipenjara. Orang yang dipenjara menderita beri-beri, jadi demikian pula halnya dengan ayam-ayam yang berkeliaran tersebut, begitu kesimpulannya. Ia tidak dapat menjumpai gejala beri-beri pada ayam di luar halaman penjara. Hal ini mendorong Eijkman untuk membuktikan bahwa penyebab penyakit adalah makanan yang dimanakan orang-orang yang dipenjara.

Eijkman kemudian mulai dengan suatu penelitian di dalam laboratoriumnya dengan memberikan makan yang berbeda kepada ayam-ayam dan kemudian membuat catatan-catatan yang teliti mengenai pertumbuhan dan kondisi ayam-ayam tersebut. Dua pengamatan penting yang ia peroleh ialah: (1) ayam-ayam yang seluruh makanannya terdiri dari beras asah memperlihatkan tanda-tanda yang sangat menyerupai tanda-tanda penyakit beri-beri pada manusia. Penyakit yang timbul pada ayam tersebut dinamakan polineuritis gallinarum. Penyakit timbul setelah ayam-ayam setelah memperoleh beras asah selama 3-7 minggu; (2) bila disamping beras asah ayam-ayam tersebut diberi juga selaput-selaput beras, maka ayam-ayam menjadi sembuh. Berdasarkan hasil penelitian Eijkman memberi kesimpulan bahwa beri-beri harus disebabkan oleh zat beracun dalam beras yang dapat dihancurkan oleh selaput-selaput beras. Sebaliknya, Casimir Funk, yang mula-mula menyebut nama vitamin, menduga bahwa selaput putih beras mengandung suatu zat yaitu vitamin yang esensial terhadap kesehatan ayam. Beberapa waktu kemudian Williams, seorang ahli kimia berkebangsaan Amerika yang bekerja di Philipina, mengisolir vitamin B1 (thiamin).

Sifat-sifat Thiamin

Vitamin B1 telah diisolir dalam bentuk murni sebagai thiamin hidrokhlorid. Zat tersebut mengkristal sebagai lempengan-lempengan putih monoklinik dalam tandan yang menyerupai roset. Thiamin mempunyai bau dan rasa khusus. Terurai pada 248oC. Sangat larut dalam air, agak larut dalam gliserol, propilen glikol dan 95% ethanol. Tidak larut dalam lemak atau larutan-larutan lemak. Pada suhu biasa, thiamin hidrokhlorid mengambil air dan membentuk suatu hidrat. Oleh karena itu zat yang murni harus disimpan dan tertutup rapat, sebab jika tidak zat tersebut akan bertambah berat. Bila thiamin hidrokhlorid diperlukan untuk larutan standar, zat tersebut perlu dikeringkan. Thiamin stabil pada 100oC selama 24 jam. Dapat disterilkan pada 120oC dalam larutan encer kecuali jika pH di atas 5,5, kemudian zat tersebut rusak cepat sekali. Analisis analitik untuk thiamin dilakukan dengan cara oksidasi menjadi thiokhrom yang memperlihatkan fluorensi biru khas dalam cahaya ultraviolet.

Satu Satuan Internasional aktivitas vitamin B1 seharga dengan lebih kurang 3 ug kristal thiamin hidrokhlorid (satu gram thiamin hidrokhlorid = 333.000 Satuan Internasional). Di Amerika Serikat kebutuhan vitamin B1 dan vitamin B lainnya dinyatakan dalam miligram bahan murni per kilogram ransum.

Sumber-sumber Thiamin

Butir padi-padian dan hasil ikutannya, bungkil kacang kedelai, bungkil kacang tanah dan tepung alfalfa semuanya relatif merupakan sumber yang kaya akan thiamin. Jadi dalam keadaan normal semua ransum unggas yang mengandung cukup thiamin tanpa penambahan pelengkapa makanan khusus yang tinggi kandungan thiaminnya. Thiamin hidrokhlorid sintesis murnii, dapat pula diperoleh secara komersial (dijual bebas).

Dalam keadaan tertentu defisiensi thiamin pada ransum unggas dapat dibuat. Dalam keadaan pH netral dan alkalis, thiamin sangat tidak stabil terhadap panas. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa meskipun tidak timbul kerusakan thiamin dalam 1% HCl selama 7 jam pada 100oC, lebih dari 90% kerusakan akan timbul dalam keadaan yang sama pada pH 7, dan kerusakan 100% dalam 15 menit pada pH 9. Oleh karenanya, ransum unggas, terutama dalam bentuk pellet, jangan sampai mengandung garam-garam alkalis dalam jumlah yang cukup untuk menimbulkan reaksi-reaksi alkalis dalam ransum. Pengolahan bahan makanan dapat pula merusak thiamin. Sebagian besar thiamin dalam tetelan daging, rusak selama pengolahan. Karena thiamin pada ikan terdapat dalam keadaan larut dalam air, maka tepung ikan mengandung thiamin sedikit, kecuali bila bagian larutan ikan dimasukkan pula bersama-sama tepungnya. Ion-ion bisulfat sangat merusak thiamin dengan cara membelah molekul thiamin ke dalam bagian pirimidin dan thiazol. Suatu enzim yang disebut thiaminase, yang mampu merusak thiamin, terdapat dalam ikan segar dan dalam bahan-bahan lainnya, termasuk jantung dan limpha hewan berdarah panas.

Pencernaan, Penyerapan, Pengangkutan dan Penyimpanan Thiamin

Tampaknya thiamin siap dicerna dan dibebaskan dari sumber-sumber alam. Meskipun siap diserap dan diangkut ke sel-sel di seluruh tubuh, vitamin tersebut untuk sebagian besar tidak disimpan dalam tubuh. Terlalu banyak thiamin akan cepat dikeluarkan tubuh melalui urine.

Defisiensi Thiamin

Pada ayam dewasa, defisiensi thiamin atau polineuritis terlihat sekitar 3 minggu setelah ayam-ayam tersebut diberi ransum yang defisien akan thiamin. Pada ayam muda, defisiensi dapat timbul sebelum umur 2 minggu. Pada ayam muda permulaan defisiensi timbul secara tiba-tiba, sedangkan pada ayam dewasa terjadinya bertahap. Gejala pertama adalah nafsu makan hilang (anoreksia) diikuti dengan bobot badan turun, bulu kasar, kaki lemah dan langkah yang tidak tetap. Ayam dewasa seringkali memperlihatkan jengger berwarna biru. Apabila defisiensi lebih parah, timbullah kelumpuhan kaki, dimulai dari otot-otot fleksor jari dan merambat ke atas, menyerang otot-otot ekstensor kaki, sayap dan leher. Ayam duduk pada kaki-kaki yang dibengkokkan dan menarik kepalanya ke belakang dalam posisi menengadah. Penarikan kepala kebelakang terjadi karena kelumpuhan otot leher anterior. Ayam tidak berdaya untuk berdiri atau duduk tegak dan terguling ke lantai untuk kemudian berbaring dengan kepala tetap tertarik.

Vitamin B1 Mempunyai Pengaruh Nyata Terhadap Nafsu Makan

Dari smua zat-zat makanan, defisiensi vitamin B1 mempunyai pengaruh paling nyata terhadap nafsu makan. Hewan yang mendapat ransum berkadar thiamin rendah dengan segera memperlihatkan anoreksia parah.

Hipervitaminosis

Kadar thiamin yang sangat tinggi telah dicoba diberikan tanpa memperlihatkan tanda-tanda keracunan. Beberapa bukti pada manusia menunjukkan bahwa dosis 5-10 mg thiamin per kg berat badan dapat memberikan pengaruh analgesik (tidak peka terhadap rasa sakit) terhadap susunan urat syaraf perifer.

Kategori:e-book
%d blogger menyukai ini: