Beranda > Perkuliahan > Anti Jamur dan Terjadinya Aflatoksin

Anti Jamur dan Terjadinya Aflatoksin

Jumat, 25 April 2008

Ada empat macam jamur yang dapat mengganggu ayam dan hewan ternak lainnya. Jamur-jamur tersebut adalah : (1) jamur yang menulari bahan makanan di ladang sebelum dipanen; (2) jamur yang menulari bahan makanan selama disimpan setelah di panen; (3) jamur yang menulari campuran bahan makanan dalam bak-bak makanan; dan (4) jamur yang menulari saluran pencernaan atau saluran pernafasan ayam.

Jamur dari tiga golongan pertama memberikan pengaruh merugikan melalui produksi toksin (mikotoksin) dan dengan cara menghancurkan sebagian nilai gizi bahan makanan yang diserangnya; jamur golongan keempat dapat meyebabkan penyakit-penyakit pathologis yang nyata (mikoses).

Di antara jenis-jenis jamur yang menulari hasil panen adalah Diplodia, Gibberella, Fusarium, Cladosporium, Nigospora dan Cephalosporium. Di antara jamur yang paling berbahaya yang menyerang hasil panen seperti kacang tanah selama panen, makanan yang disimpan dan bahan makanan yang disimpan adalah Aspergillus flavus, Aspergilli lainnya dan beberapa Penisillia. Aspergillus fumigatus adalah fungus yang paling pathologis dan merupakan jamur yang sering dijumpai dalam Aspergillosis pada ayam. Mikosis saluran pencernaan biasanya dihasilkan oleh Candida albicans (penyakit tersebut sering dinamakan Moniliasis).

Penularan jamur ladang timbul pada keadaan musim panen yang keadaan cuacanya kurang baik dengan kelembaban tinggi. Penelitian dengan jagung berjamur memperlihatkan bahwa mikotoksin yang dihasilkan oleh jamur ladang tersebut tidak menyebabkan mortalitas akan tetapi mengurangi pertumbuhan dan efisiensi penggunaan ransum.

Reaksi lebih parah pada hewan yang diberi ransum yang bahan-bahan makanannya telah ditulari dengan Aspergillus flavus. Mikotoksin yang dihasilkan oleh spesies tersebut dinamakan aflatoksin.

Aflatoksin pertama kali dikenal pada waktu timbul penyakit di Inggris pada tahun 1960. Aflatoksin tersebut diketahui sebagai toksin pada bungkil kacang tanah yang digunakan sebagai sumber protein pada ransum unggas. Pada tahun 1963 zat tersebut dibuktikan secara khemis dan pada saat itu telah diketahui bahwa ada empat macam aflatoksin yang disebut B-1, B-2, G-1 dan G-2. Aflatoksin mencampuri pengangkutan lemak dalam tubuh dan juga mencampuri penggunaan asam amino pada tingkatan sel. Zat tersebut diketahui karsinogenik, yang menghasilkan tumor pada keadaan tertentu.

Aspergillus flavus dapat tumbuh dan menghasilkan aflatoksin bila terdapat cukup zat-zat makanan, hawa dan kelembaban dan bila suhu cukup. Jamur tersebut dapat tumbuh pada setiap bahan makanan ternak atau zat-zat makanan bila kandungan air sekitar 13 sampai 14 persen dan kelembaban relatif di atas 50 persen. Suhu optimal adalah sekitar 21oC, akan tetapi aflatoksin dapat dihasilkan antara 10o C dan 38oC.

Aflatoksin telah diketahui dapat dihasilkan dari jagung, gandum, bungkil kacang kedele, tepung ikan dan bungkil biji kapas. Di setiap pabrik makanan ternak dapat dicurigai adanya aflatoksin bila bahan makanan disimpan di tempat yang kelembabannya relatif tinggi dan suhunya sedang.

Gejala Aflatoksikosis

Pada unggas yang telah mengkonsumsi ransum mengandung aflatoksin sebanyak satu ppm, akan memperlihatkan kenaikan berat hati sebesar 50%. Sebagian besar kenaikan tersebut adalah lemak. Ayam yang menderita aflatoksikosis akan memperlihatkan hati sangat pucat, limpa dan pankreas kedua-duanya agak membesar, jengger, kaki dan sumsum tulang pucat. Dapat terjadi perdarahan dalam jaringan.

Pencegahan Pembentukan Aflatoksin

Pertumbuhan jamur pada bahan makanan atau makanan yang telah dicampur dapat dicegah dengan: (1) mengeringkan bahan makanan di bawah kandungan air kritis (lebih kurang 12% air); dan (2) penambahan natrium propionat atau kalsium propionat. Zat-zat tersebut dapat ditambahkan ke dalam bahan makanan atau ransum sejumlah satu kilogram per ton. Nistatin telah pula digunakan untuk mencegah dan pengobatan mokosis tembolok dan diarrhee mikotik. Dalam beberapa hal pengobatan terhadap Aspergillosis telah dianggap sia-sia. Tidak ada pelengkap makanan yang sanggup mencegah Aspergillosis, yang timbul bila ayam berhubungan dengan spora-spora jamur. Hal tersebut terjadi pada waktu litter dibiarkan basah dan menjadi berjamur.

Kategori:Perkuliahan
%d blogger menyukai ini: