Beranda > Informasi > Sejarah Vitamin

Sejarah Vitamin

Minggu, 20 April 2008

Sebelum abad ke duapuluh, karbohidrat, lemak, protein, dan beberapa zat mineral telah dianggap sebagai zat-zat makanan yang dibutuhkan untuk fungsi tubuh normal. Akan tetapi berabad-abad sebelumnya, berbagai pengamatan menduga bahwa senyawa-senyawa organik lainnya adalah esensial untuk menjaga kesehatan. Sebagai misal telah diketahui selama 300 tahun, bahwa dengan makan buah-buahan dan sayur-sayuran segar ternyata berguna untuk pencegahan atau pengobatan scorbut (sariawan). Juga telah diakui, bahwa rakhitis dapat disembuhkan dengan minum minyak ikan. Pengamatan-pengamatan tersebut menimbulkan dugaan, bahwa ada senyawa-senyawa zat makanan lain diperlukan untuk menjaga kesehatan di samping karbohidrat, lemak atau protein.

Pada tahun 1912, Funk, seorang sarjana biokimia bangsa Polandia yang bekerja di London untuk pertama kali memperkenalkan istilah vitamin (amine yang vital) yang kemudian terkenal dengan nama vitamin (dari bahasa Latin vita yang berarti hidup), untuk menandakan kelompok dari senyawa-senyawa organik tersebut.

Suatu vitamin adalah suatu senyawa organik yang dalam jumlah sangat kecil adalah esensial untuk metabolisme jaringan normal. Defisiensi zat-zat vitamin sering kali menimbulkan suatu sindroma yang spesifik bagi setiap vitamin. Beberapa vitamin tidak diperlukan dalam ransum beberapa spesies, karena vitamin-vitamin tersebut dapat dibuat dari flora usus (vitamin B kompleks pada hewan ruminansia) atau dapat dibuat di dalam beberapa jaringan tubuh yang belum diketahui (vitamin C pada sebagian besar hewan peliharaan; marmot, monyet dan manusia tidak mensintesis vitamin C, oleh karena itu untuk kebutuhannya perlu memperoleh dari luar).

Pada waktu sekarang gejala-gejala spesifik dan bahawa terhadap defisiensi vitamin jarang terjadi, karena industri-industri makanan ternak yang jujur sangat berhati-hati dalam menyusun ransumnya untuk menjamin agar ransum tersebut cukup mengandung vitamin-vitamin yang dibutuhkan hewan ternak.

Karena beberapa species biasanya tidak membutuhkan vitamin tertentu dalam ransumnya, maka hal tersebut tidak boleh dianggap bahwa species tadi tidak mengalami defisiensi atau kekurangan vitamin-vitamin tersebut. Sebagai misal, vitamin B12 adalah suatu senyawa kobalt: bila hewan ruminansia diberi ransum tanpa kobalt, dan vitamin B12 tidak disintesis oleh flora rumen, maka akan timbul gejala defisiensi vitamin B12.

Adanya vitamin dalam bahan makanan belum merupakan suatu jaminan bahwa suatu defisiensi dari vitamin tersebut tidak timbul, karena mungkin ada faktor-faktor lain terdapat dalam ransum yang akan menghalang-halangi asimilasi. Telah diketahui bahwa pengobatan secara terus-menerus dengan parafin cair dapat menghalangi penyerapan karoten, karena parafin melarutkan senyawa karoten dan membentuk suatu larutan yang tidak dapat diserap oleh mukosa usus. Maka akan timbul gejala defisiensi vitamin A. Juga merupakan fakta yang jelas bahwa terlalu banyak minyak ikan dalam ransum akan menimbulkan defisiensi vitamin E dalam waktu singkat dengan akibat degenerasi otot. Infeksi usus ada hubungannya dengan penyerapan vitamin A dan penggunaannya. Gangguan hidrolisis lemak dan penyerapannya secara otomatis mempengaruhi penyerapan semua vitamin yang larut dalam lemak.

Dewasa ini sebagian vitamin dapat dihasilkan secara sintetik dan penggunaan penentuan secara kimiawi makin meningkat. Vitamin-vitamin sintetik tersebut sama efektifnya seperti dari sumber-sumber alam dan lebih disukai karena kualitas standarnya, garansi potensinya, dan stabilitasnya. Vitamin-vitamin sintetik memungkinkan formulasi ransum yang fleksibel, sesuai dengan kebutuhan setempat dan penggunaan ekonomisnya. Bentuk-bentuk stabilitas vitamin A, D, dan E dapat diperoleh di pasaran. Vitamin dapat diberikan terdiri dalam konsentrasi tinggi atau sebagai premiks yang berpotensi rendah dalam kombinasi dengan zat-zat makanan aktif lainnya, seperti zat-zat mineral, antibiotika dan lain-lain.

Bila hanya tersedia sumber-sumber vitamin alam, maka perlu diperhatikan bahwa konsentrasi vitamin-vitamin tersebut dalam bahan makanan dapat bervariasi luas dengan musim, panenan dan kondisi penyimpanan. Nilai hayati vitamin dapat berkurang atau hilang akibat terdapatnya zat-zat antagonis dalam sumber-sumber vitamin alam tersebut.

Vitamin A, D3, E, riboflavin, dan B12 perlu mendapat perhatian khusus. Akan tetapi jumlah kholin, asam nikotinat dan kadangkala asam pantothenat yang tidak mencukupi dapat dijumpai dalam berbagai ransum, terutama pada ransum-ransum yang tidak mengandung protein hewan.

Daun hijau leguminosa dan rumput diketahui merupakan sumber vitamin yang baik, terutama karoten.

Kategori:Informasi
%d blogger menyukai ini: