Beranda > Informasi > All about Vitamin

All about Vitamin

Minggu, 20 April 2008

Tatanama

Tatanama vitamin mengalami metamorfosis akibat lebih banyak sifat-sifat kimiawinya makin diketahui. Pada mulanya nama vit-amine telah digunakan untuk faktor gizi esensial dan faktor pertumbuhan, akan tetapi kemudian diketahui bahwa semua senyawa yang demikian itu bukanlah protein atau asam amino. Maka namanya disingkat menjadi vitamin. Berbagai bentuk vitamin telah diketahui, oleh karena vitamin-vitamin tersebut ditentukan dengan nomor, misalnya D1, D2 dan sebagainya. Kemudian diketahui bahwa vitamin D1 bukannya satu akan tetapi dua senyawa yang berbeda, oleh karenanya akhirnya tidak ada Vitamin D1. Tata nama tersebut ternyata membingungkan, makanya vitamin-vitamin lebih sering disebut dengan nama kimiawinya, misalnya: Kalsiferol atau vitamin D2, Piridoksin atau vitamin B6, Cyanokobalamin atau vitamin B12, Tokoferol atau vitamin E.

Stabilitas Vitamin

Stabilitas vitamin bervaiasi sekali, akan tetapi dasar-dasar tertentu dapat digunakan terhadap semua vitamin. Sebagian besar vitamin peka terhadap cahaya dan harus disimpan dalam wadah tahan cahaya. Beberapa vitamin peka terhadap oksidasi maka sebaiknya zat-zat tersebut disimpan dalam tempat-tempat yang udaranya tidak dapat masuk. Kalsiferol misalnya, sebaiknya disimpan di bawah nitrogen dalam ampul-ampul yang disegel. Sebagian besar vitamin yang larut dalam air adalah kurang stabil dalam larutan, sedangkan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak pada umumnya lebih stabil dalam larutan. Sebagian besar vitamin stabil terhadap panas, kecuali vitamin A, D, dan E; juga kalsium pantothenat adalah labil terhadap panas akan tetapi vitamin C, yang diperkirakan labil terhadap panas, ternyata stabil terhadap panas bila tidak ada oksigen.

Penggolongan Vitamin

Vitamin dibagi dalam dua golongan berdasarkan daya larutnya dalam air atau dalam lemak dan minyak. Sebelum diketemukan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak, maka lemak dianggap hanya berfungsi sebagai sumber energi bagi hewan.

Vitamin-vitamin yang larut dalam lemak adalah vitamin A, D, E dan K. Zat-zat tersebut hanya mengandung karbon, hidrogen dan oksigen dan terdapat dalam bahan makanan bersama-sama dengan lipida. Vitamin-vitamin tersebut diserap bersama-sama lemak makanan, kemungkinan dengan mekanisme seperti halnya pada penyerapan lemak. Vitamin-vitamin tersebut pada umumnya disimpan dalam tubuh hewan dan oleh karenanya tidak perlu dibutuhkan setiap hari. Syarat-syarat yang menyempurnakan penyerapan lemak seperti tersedia empedu yang cukup dan pembentukan misel yang baik menyempurnakan pula penyerapan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak. Sebaiknya penyerapan akan terganggu bila syarat-syarat untuk penyerapan lemak normal tidak terpenuhi.

Vitamin-vitamin yang larut dalam lemak lebih stabil daripada yang larut dalam air, akan tetapi vitamin-vitamin tersebut mempunyai beberapa ketidakstabilan. Salah satu diantaranya yang sangat penting adalah rusaknya vitamin E dalam minyak yang tengik.

Selain stabilitas, berbagai faktor dapat mempengaruhi pengambilan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak; gangguan penyerapan karoten akibat minum parafin cair dalam waktu lama dan rusaknya vitamin E akibat penggunaan minyak ikan yang berlebihan dalam ransum adalah contoh-contoh yang penting. Faktor-faktor lain seperti penggunaan kalsium yang berlebihan dalam ransum, dapat pula mempengaruhi penyerapan lemak dan vitamin yang larut dalam lemak. Dengan diketahuinya faktor-faktor tersebut, maka hal-hal yang dapat merugikan dapat dihindari dengan cara mengurangi penggunaan minyak ikan atau menggantikannya dengan preparat-preparat konsentrat sehingga pemberian asam lemak tidak jenuh dalam jumlah besar dapat dielakkan. Selain itu digunakan pula vitamin "stabilisator" yang biasanya terdiri dari antioksidan. Penggunaan antioksidan tersebut sangat penting bagi industri-industri makanan ternak untuk menjamin agar kadar vitamin ransum yang dibuatnya tetap cukup mengandung vitamin meskipun disimpan dalam waktu yang relatif lama.

Vitamin-vitamin yang larut dalam air terdiri dari vitamin B kompleks dan vitamin C. Vitamin-vitamin tersebut mengandung pula karbon, hidrogen dan oksigen dan dapat mengandung nitrogen, sulfur dan kobalt. Vitamin C diperlukan hanya bagi manusia, monyet dan marmot, sedangkan vitamin B kompleks diperlukan hanya bagi hewan berlambung satu.

Vitamin B dapat dibagi dalam dua golongan, yaitu: (1) Vitamin B yang ada sangkut pautnya dalam pembebasan energi makanan (thiamin-B1, riboflavin-B2, nikotiamid, asam pantothenat dan biotin) dan (2) vitamin-vitamin hematopoietik atau vitamin-vitamin yang ada hubungannya dengan pembentukan sel darah merah (asam folat dan B12, kadangkala disebut kobalamin) Piridoksin-B6 berfungsi sedemikian rupa sehingga dapat digolongkan sebagai vitamin yang membebaskan energi dan vitamin hematopoietik.

Vitamin-vitamin yang larut dalam air yang diperlukan unggas adalah vitamin B1, B2, B6, B12, asam nikotinat, asam pantothenat, asam folat, biotin dan kholin. Kecuali untuk vitamin B12 vitamin-vitamin yang larut dalam air tidak disimpan dalam tubuh, akan tetapi kelebihan dari vitamin-vitamin tersebut secara cepat dikeluarkan dalam urine. Oleh karena itu pemberian vitamin-vitamin yang larut dalam air secara tetap adalah perlu untuk terjadinya defisiensi zat-zat tersebut.

Kategori:Informasi
%d blogger menyukai ini: