Beranda > Perkuliahan > Antibiotik

Antibiotik

Selasa, 12 Februari 2008

Antibiotik adalah zat khemis khusus yang dihasilkan oleh mikroorganisme seperti ragi, jamus dan bakteri. Istilah antibiotik berarti pertentangan dengan hidup atau merusak kehidupan. Suatu antibiotik adalah stu zat yang dibuat oleh organisme hidup yang menghalang-halangi atau merusak kehidupan organisme lainnya.

Antibiotik digunakan untuk melawan infeksi dengan cara pencegahan atau pengobatan. Antibiotik diberikan sejumlah 2 sampai 10 gram per ton ransum, merangsang pertumbuhan anak ayam yang dipelihara dalam lingkungan yang tidak bebas hama. Karena zat tersebut merangsang pertumbuhan dan memperbaiki produksi telur dalam keadaan stress, maka zat tersebut membantu dalam pengambilan makanan yang efisien. Antibiotik harus digunakan sesuai dengan petunjuk pabrik yang memproduksinya.

Dari penelitian ternyata aureomisin (khlortetrasiklin), basitrasin, zinc basitrasin, oleandomisin dan virginiamisin dicampurkan dalam ransum berguna sekali untuk merangsang pertumbuhan anak-anak hewan. Jumlah ransum yang dapat dihabiskan dakan sehari akan bertambah dengan penggunaan antibiotik tersebut dan jumlah ransum yang diperlukan untuk kenaikan berat tiap kilogramnya akan berkurang.

Antibiotik yang biasanya dicampurkan dalam ransum untuk ternak unggas dan babi adalah sekitar 10 g/ton dan 20 g/ton untuk anak sapi perah. Penggunaan antibiotik dalam jumlah banyak, yaitu 100 – 200 gram/ton ransum pada ternak ayam yang diserang penyakit menahun (radang alat pernafasan) akan menyembuhkan ayam-ayam dalam waktu singkat dan akan memulihkan kembali daya produksi telurnya.

Dari penelitian-penelitian terbukti pula, bahwa penggunaan antibiotik dalam ransum, menghambat penggunaan protein, asam-asam amino dan vitamin-vitamin. Antibiotik dalam ransum babi, ayam dan kalkun yang kadar proteinnya dikurangi 3 % akan memberikan hasil sama dengan ransum tanpa antibiotik dengan kadar protein yang seharusnya. Mekanisme penghematan penggunaan protein, asam-asam amino dan vitamin-vitamin tadi belum dapat diterangkan.

Antibiotik adalah suatu obat, bukan zat makanan. Jadi pengaruhnya terhadap ransum ternak adalah sekunder. Antibiotik digunakan secara luas dalam ransum unggas dan babi untuk mempertinggi laju dan efisiensi pertumbuhan hewan ternak tersebut. Antibiotik juga digunakan dalam pemberian ransum pada anak sapi, sebelum hewan-hewan tersebut mempunyai rumen yang berkembang sempurna dan dalam beberapa hal telah diberikan pula pada anak sapi yang sedang digemukkan. Akan tetapi penggunaan utama antibiotik adalah pada ransum hewan berlambung satu seperti babi dan unggas dalam konsentrasi yang relatif rendah.

Pengaruh Lain Antibiotik

Antibiotik telah membuksikan sangat berguna memberantas penyakit-penyakit tertentu. Salah satu pengaruh pemberian khlortetrasiklin dan oksitetrasiklin yang baik adalah berkurangnya gejala penyakit mencret pada anak sapi dan anak babi sapihan. Terutama pada anak sapi, penyakit mencret tersebut merupakan masalah penting yang dapat mengakibatkan kerugian, infeksi sekunder dan kematian.

Penggunaan antibiotik dalam kadar tinggi, yaitu 100 sampai 200 gram per ton ransum dalam waktu pendek pada ayam yang menderita infeksi menahun tertentu, seperti penyakit alat pernafasan, dapat mempercepat penyembuhan dan mempercepat pemulihan ayam dalam pertumbuhan dan produksi telur.

Dari sebagian besar hasil penelitian dapat diperlihatkan, bahwa pemberian antibiotik pada sapi perah, tidak mempertinggi produksi susu. Beberapa penelitian meperlihatkan bahwa sapi perah yang diberi antibiotik dalam ransumnya, akan memprosuksi susu cukup tinggi. Dugaan ini adalah bahwa khlortetrasiklin yang didapatnya ikut mencegah timbulnya penyakit kuku dan infeksi alat pernafasan dan karena kesehatan sapi menjadi lebih baik, sapi tersebut menghasilkan susu lebih banyak. Pemberian antibiotik yang rendah kadarnya (10 mg per 45 kg berat badan) tidaklah merupakan pengobatan yang efektif terhadap penyakit kuku dan infeksi-infeksi tertentu lainnya. Pemberian penisillin atau antibiotik lain secara infus ke dalam puting susu untuk mengobati penyakit mastitis atau pemberian secara intramuskular untuk mengobati penyakit-penyakit infeksi akan menyebabkan susu mengandung antibiotik selama tiga sampai empat kali pemerasan. Susu demikian lebih bermanfaat bila digunakan untuk pakan anak sapi daripada dijual sebagai makanan manusia, karena reaksi alergik dapat timbul pada manusia yang peka terhadap penisillin dan susu demikian tidak dapat digunakan untuk membuat keju.

Perhatian besar telah diberikan terhadap pertanyaan apakah sisa-sisa antibiotik akan terdapat dalam hasil-hasil ternak bila hewan ternak yang diberi entibiotik disembelih untuk makanan manusia. Antibiotik tidak mungkin terdapat dalam daging hewan ternak yang diberi zat tersebut sebanyak yang cukup untuk menggertak pertumbuhan. Akan tetapi antibiotik tersebut dapat diketemukan dalam daging, bila pemberiannya adalah sepuluh kali lebih tinggi. Pada kadar 200 ppm dalam ransum, sedikit antibiotik akan terdapat dalam daging babi dan pada kadar 1000 ppm, sebagian besar jaringan akan mengandung antibiotik dalam jumlah lebih besar. Penghentian pemberian antibiotik beberapa hari sebelum hewan disembelih, akan menghilangkan tertimbunnya antibiotik dalam jaringan. Hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa konsumen tidak perlu khawatir menggunakan hasil ternak, terutama karena antibiotik akan rusak bila daging direbus.

Beberapa Teori Cara Kerja Antibiotik

Antibiotik adalah obat bukan zat makanan, jadi pengaruhnya terhadap zat pakan pada hewan merupakan kebutuhan sekunder

Cara kerja antibiotik agar dapat mempertinggi laju pertumbuhan hewan muda, belum dapat diterangkan dengan sempurna, meskipun sudah banyak teori telah dikemukakan. Di antara berbagai teori tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Antibiotik membantu pertumbuhan mikroorganisme yang mensintesa zat-zat makanan dan menghalang-halangi tumbuhnya mikroorganisme yang merusak zat-zat makanan.
  2. Antibiotik dapat menghalang-halangi pertumbuhan mikroorganisme yang memproduksi amonia dalam jumlah banyak dalam saluran pencernaan. Amonia bebas dari senyawa-senyawa nitrogen lain, seperti trimethilamin dapat merupakan racun yang menghalang-halangi laju pertumbuhan.
  3. Antibiotik dapat mempertinggi penyerapan berbagai zat makanan. Penambahan antibiotik dalam ransum ternak mempertinggi penyerapan zat-zat makanan seperti kalsium, phospor, dan magnesium. Pemberian antibiotik dapat pula menyebabkan terjadinya dinding usus lebih tipis pada hewan yang mendapat zat tersebut daripada yang tidak. Dinding usus yang menebal dapat terjadi dari ransangan racun Clostridium walchii atau dari mikroorganisme lain yang memproduksi racun. Racun tersebut dapat disingkirkan dari alat pencernaan dengan memberikan antibiotik kedalam ransum.
  4. Antibiotik dapat mempertinggi konsumsi ransum atau konsumsi air atau kedua-duanya. Meskipun tidaklah mungkin untuk menentukan secara pasti apakah konsumsi ransum yang meninggi tersebut adalah pengaruh primer antibiotik ataukah konsumsi yang meninggi tersebut disebabkan karena kondisi tubuh yang lebih baik akibat antibiotik, sangatlah mungkin bahwa pengaruhnya terhadap konsumsi air adalah sekunder. Hasil penelitian oleh banyak ahli memperlihatkan bahwa ada hubunagan konstan antara konsumsi ransum dan konsumsi air pada ayam. Karena antibiotik berguna dalam merubah mikroflora usus, zat tersebut sering mempengaruhi konsumsi air dengan mempengaruhi penyerapan dan menahan air dalam alat pencernaan, misalnya pada pencegahan diare. Sekum anak ayam yang diberi antibiotik, biasanya lebih besar dan berisi ekskreta basah lebih banyak dari sekum anak ayam yang diberi ransum sama tanpa antibiotik.
Kategori:Perkuliahan
%d blogger menyukai ini: