Beranda > Informasi > Lemak dan Fungsinya pada Ransum Ayam

Lemak dan Fungsinya pada Ransum Ayam

Selasa, 6 November 2007

Lemak dan minyak lebih kurang adalah sama, kecuali bahwa lemak adalah padat pada suhu kamar dan minyak adalah cair. Sebagian besar lemak tumbuh-tumbuhan termasuk dalam golongan minyak. Untuk tujuan pakan ternak, maka kedua-duanya disebut lemak.

Istilah lemak dan minyak yang bertahun-tahun yang lalu digunakan untuk menunjukkan semua zat yang dapat diekstraksi dengan ether dari bahan pakan atau jaringan, pada saat ini hanya digunakan untuk ester asam lemak murni dan gliserol, yang disebut trigliserida. Istilah lipida digunakan untuk semua zat yang larut dalam ether.

Pengaruh Khusus Asam-Asam Lemak Tertentu

Selama beberapa tahun terakhir banyak penelitian telah dilakukan terhadap pengaruh susunan asam lemak dan kombinasi lemak dan minyak dalam ransum unggas. Daya cerna lemak, pengaruh yang menguntungkan dari kombinasi lemak tertentu dan susunan lemak dari hasil akhir, bervariasi luas sekali sesuai dengan susunan asam lemak atau jumlah asam lemak bebas dalam ransum.

Asam lemak utama yang membentuk sebagian besar lemak bahan pakan dan lemak tubuh adalah asam-asam palmitat, stearat, oleat, linoleat. Keempat asam lemak tersebut meliputi lebih dari 90 persen sebagian besar bahan pakan dan lemak karkas. Palmitat dan stearat adalah asam lemak jenuh, sedangkan linoleat dan oleat adalah asam lemak tidak jenuh. Asam lemak tidak jenuh mengandung lebih dari satu senyawa rangkap disebut asam lemak tidak jenuh ganda. Asam linoleat mempunyai dua senyawa rangkap dan ini merupakan asam lemak tidak jenuh ganda dalam sebagian besar lemak bahan pakan dan lemak karkas. Asam lemak tidak jenuh ganda lainnya adalah linoleat (tiga senyawa rangkap). Kedua asam lemak tersebut hanya terdapat dalam lemak tertentu.

Linoleat, linolenat dan arakhidonat merupakan asam-asam lemak esensial. Oleh sebab itu harus dalam ransum, meskipun dengan adanya piridoksin (Vitamin B6) arakhidonat dapat disintesis dari linoleat.

Dari keempat asam lemak tersebut (palmitat, stearat, oleat, linoleat) semuanya dapat disintesis oleh unggas, kecuali linoleat. Oleh sebab itu linoleat harus ada dalam ransum. Kekurangan asam linoleat dalam ransum mengakibatkan suatu penyakit defisiensi dengan gejala-gejala: pertumbuhan anak ayam terganggu, hati berlemak dan ketahanan yang berkurang terhadap infeksi pernafasan. Pada ayam petelur gejala-gejalanya adalah produksi telur berkurang, telur kecil dan daya tetas rendah.

Ayam petelur selama fase produksi pertamanya yang tertinggi dari periode bertelur membutuhkan 1,5 – 2 persen asam linoleat. Suatu ransum yang seluruhnya terdiri dari tumbuh-tumbuhan, mengandung 4 – 5 persen ekstrak ether (lemak) dan setengah dari padanya pada umumnya adalah asam linoleat (terutama dari jagung).

Karena asam linoleat tidak dapat disintesis oleh unggas, maka jumlah asam lemak tersebut dalam bentuk karkas atau lemak telur, seluruhnya tergantung dari jumlah yang terdapat dalam ransum. Jadi kandungan asam lemak tidak jenuh ganda dari daging atau telur dapat dipengaruhi oleh keadaan ransum. Sumber utama asam linoleat di alam adalah minyak tumbuh-tumbuhan. Minyak jagung dan minyak kacang kedelai mengandung masing-masing lebih kurang 54,7 dan 49,1 persen.

Bila ransum unggas mengandung jagung dalam jumlah tinggi, maka minyak jagung dapat menyediakan asam linoleat dalam jumlah cukup dalam ransum. Kacang kedelai juga tinggi kadar asam linoleatnya, meskipun kadar lemak bungkil kacang kedelai yang diekstraksi rendah kadarnya. Bungkil kacang kedelai yang diproses merupakan sumber asam linoleat dan sangat baik.

Kadar asam linoleat dapat berkisar antara hampir 0 sampai 40 persen dari asam lemak telur, terutama dari ransumnya. Pada umumnya, dengan meningginya kadar asam linoleat lemak telur, maka kadar asam oleat turun, disertai dengan perubahan sedikit dalam kadar asam lemak jenuh yang bisanya berkisar antara 35 – 40 persen dari jumlah asam lemak. Kadar asam lemak jenuh adalah agak tetap, meskipun dengan perubahan yang menyolok dalam kadar asam linoleat.

Sebagai sumber energi pakan, asam palmitat dan stearat hanya sedikit dapat diserna, sedangkan asam oleat dapat dicerna dengan baik. Asam palmitat dan stearat dapat lebih baik digunakan dalam bentuk lemak daripada dalam bentuk asam lemak bebas. Dengan perkataan lain, asam lemak tersendiri atau dalam campuran adalah kurang dapat dicerna daripada lemaknya yang utuh. Hal ini menunjang teori, bahwa sebagian besar lemak diserap tanpa hidrolisis dalam bentuk emulsi yang sangat halus atau sebagai garam-garam empedu.

Asam oleat (dalam tingkatan yang lebih sedikit) dan asam linoleat mempertinggi penyerapan asam lemak jenuh (palmitat, stearat) pada anak ayam. Dalam hal ini dapat diharapkan penyerapan yang lebih baik sebesar 20 persen. Pada umunya lemak dengan titik cair yang sama, mempunyai daya kecernaan yang kurang lebih sama.

Peranan Lemak dalam Ransum Unggas

Penggunaan lemak dalam ransum unggas dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan-keuntungan sebagai berikut:

  1. Menaikkan nilai energi sampai kepada tingkatan yang tidak tercapai bila menggunakan bahan pakan biasa, terutama butir-butiran. Pada ayam broiler indeks konversi ransum terbaik akan tercapai bila susunan ransum mengandung sekurang-kurangnya 2800 sampai 3400 Kkal energi metabolis per kilogram. Tingkat tersebut hanya hanya dapat tercapai dengan penambahan lemak dalam ransum. Pada ayam petelur penambahan lemak akan menghasilkan daya produksi lebih tinggi dan bentuk telur lebih besar.
  2. Penggunaan lemak dalam ransum akan melenyapkan berdebunya ransum, membuat rupa ransum menjadi lebih menarik. Mempertinggi palatabilitas dan mengurangi hilangnya zat-zat pakan akibat debu. Di samping itu lemak dalam ransum akan mengurangi ausnya mesin dan menghemat tenaga yang dibutuhkan dalam membuat pellet.

Selain keuntungan-keuntungan praktis dari penambahan lemak dalam ransum, dapat pula ditinjau keuntungan-keuntungan ekonomis penggunaan lemak dalam ransum dari tiga sudut utama, yaitu: a) nilai kalori dibandingkan terhadap bahan pakan lainnya; b) menghemat ransum karena peningkatan efisien ransum; c) kemungkinan penggunaan lemak secara efektif dalam bahan pakan berkualitas rendah.

Pada waktu lemak pertama kali digunakan dalam industri pakan ternak, lemak tersebut dinilai pada kandungan energinya saja, yang diterjemahkan dalam kalori. Jadi beberapa keuntungan lainnya pada mulanya tidak terlihat. Jagung yang merupakan komponen bahan pakan dengan kandungan energi tertinggi setelah lemak, telah digunakan sebagai dasar perbandingan.

Kategori:Informasi
%d blogger menyukai ini: