Beranda > Informasi > Teknik Membuat Diagnosa

Teknik Membuat Diagnosa

Selasa, 23 Oktober 2007

Membuat diagnosa sama seperti halnya menyusun potongan-potongan bergambar pada mainan "puzzle". Masing-masing bagian gambar dikumpulkan dari peternakan atau dari laboratorium. Menghubungkan satu bagian gambar dengan bagian gambar yang lain dilakukan untuk mendapatkan satu gambaran yang jelas yaitu "suatu diagnosa".

Pada beberapa kasus penyakit hanya diperlukan bagian-bagian gambar dalam jumlah kecil (misalnya coccidiosis). Pada khasus lain (misalnya infeksi saluran pernafasan ringan) diperlukan bagian-bagian gambar yang lebih banyak untuk mendapatkan sebuah kesimpulan.

Hampir semua khasus memerlukan diagnosa yang tepat, sehingga dapat diperlukan untuk pedoman pengobatan atau untuk pedoman melakukan tindakan pencegahan (sehingga khasus tidak terulang kembali pada kelompok ayam yang akan datang).

Pada suatu khasus, pemeriksaan laboratorium kurang diperlukan, tetapi pada kasus lain pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan. Meskipun demikian suatu hal yang perlu diingat adalah kenyataan bahwa jarang sekali serangan penyakit menimbulkan gambaran yang sempurna, karena itu hanya menggunakan salah satu prosedur pemeriksaan dapat mengakibatkan diagnosa yang salah.

Pada khasus yang menunjukkan gambaran tidak sempurna: tatalaksana peternakan, ransum, minuman dan semua segi masalah peternakan harus diperiksa secara mendalam untuk mendapatkan gambaran yang mendekati kebenaran.

Dalam menentukan diagnosa diperlukan beberapa langkah yaitu :

  1. Menentukan bahwa pada pada suatu peternakan terdapat khasus.
  2. Mendapatkan amnesia.
  3. Pemeriksaan di peternakan, termasuk pemeriksaan post mortem (bedah bangkai) untuk mengetahui perubahan patologi anatomi.
  4. Pengambilan dan pengiriman material untuk pemeriksaan laboratorium.

Dalam menentukan diagnosa ini, cara mengumpulkan keterangan dan analisa secara rinci mempunyai arti yang sangat penting.

Menentukan Bahwa Pada Suatu Peternakan Terdapat Kasus.

Pekerjaan ini suatu saat sangat mudah dilakukan. Misalnya berdasarkan adanya kematian, gejala penyakit atau produksi telur menurun. Pada kasus lain pekerjaan ini sukar dilakukan. Misalnya pada khasus yang hanya terdapat keterangan bahwa konversi ransum yang jelek atau laju pertumbuhan berat badan yang rendah.

Mendapatkan Anamnese (Keterangan Peternak Tentang Sejarah Kelompok Ayam dan Peternakan)

Keterangan yang sangat diperlukan adalah:

  1. Umur dan jumlah ayam.
  2. Tipe ayam (petelur atau pedaging), strain ayam, karena mungkin ada hubungan antara kasus dan genetik atau masalah penetasan.
  3. Kumpulan gejala-gejala penyakit yang dapat dilihat pada kelompok ayam yang diduga sakit.
  4. Berapa lama gejala-gejala tersebut telah terjadi? Khasus merupakan khasus akut atau khasus kronis.
  5. Perkiraan prosentase ayam yang menunjukkan gejala sakit.
  6. Jika terjadi kematian, beberapa jumlah ayam yang mati selama khasus terjadi.
  7. Adakah pengobatan yang telah dilakukan? Apa obatnya dan kapan diberikan.
  8. Adakah kelompok ayam yang lain dan berapa umur mereka?
  9. Adakah penyakit telah menular kepada kelompok ayam yang lain? Jika menular, berapa waktu yang diperlukan untuk penularan tersebut?
  10. Adakah ayam lain yang baru dipindahkan ke dalam peternakan ayam tersebut?
  11. Adakah khasus yang terjadi sebelumnya? Jika ada, kapan terjadinya?
  12. Sistem tatalaksana peternakan, model kandang yang dipergunakan dan pengawasan lingkungan peternakan.
  13. Apakah pada peternakan baru saja terjadi perubahan tatalaksana peternakan?
  14. Sejarah, vaksinasi dari seluruh kelompok ayam dalam satu peternakan.
  15. Apakah telah dilakukan vaksinasi dengan vaksin aktif?
  16. Ransum apa yang diberikan dan zat pelengkap ransum (feed suplement) apa yang dikandungnya?
  17. Kapan ransum dengan nomor batch terakhir diberikan?
  18. Berapa kepadatan ayam dalam satu kandang?

Pemeriksaan Di Peternakan Termasuk Pemeriksaan Post Mortem.

Pemeriksaan Post Mortem adalah pemeriksaan pada tubuh ayam yang baru saja mati atau dimatikan. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mengetahui perubahan patologi anatomi tubuh ayam, yang terjadinya akibat serangan suatu penyakit.

Perubahan patologi anatomi adalah perubahan besar, bentuk, warna, konsistensi dan letak organ-organ tubuh akibat serangan suatu penyakit.

Pemeriksaan post mortem untuk melihat terjadinya perubahan patologi anatomi. Perubahan patologi anatomi sangat membantu dalam menetapkan jenis penyakit.

Pada langkah ketiga dalam melakukan diagnosa ini, perlu diingat bahwa hanya beberapa penyakit yang gejalanya jelas terlihat.

Seringkali keadaan lingkungan yang jelek dan kesalahan tatalaksana mempercepat timbulnya masalah seperti : coccidiosis, penyakit saluran pernafasan, kelainan produksi telur, kualitas telur jelek dan penyakit yang tidak jelas penyebabnya.

Kepadatan ayam, ransum, distribusi air, distribusi cahaya, ventilasi, perpindahan pekerjaan peternakan dan metode vaksinasi merupakan tatalaksana yang seringkali salah tanpa disadari.

Perbaikan beberapa kesalahan tatalaksana dapat membaiki efektifitas pengobatan (jika diperlukan) atau bahkan samasekali tidak diperlukan obat yang biasanya mahal.

Seringkali pemeriksaan post mortem menghasilkan keterangan yang tepat pada khasus wabah penyakit yang mudah didiagnosa seperti coccidiosis, nekrotik enteritis, infeksi bakteri, kelaparan dan sebagainya. Meskipun demikian pemilihan material diperlukan untuk dikumpulkan dan dikirim ke laboratorium, baik untuk menegaskan diagnosa maupun untuk memperoleh keterangan.

Material pemeriksaan laboratorium sebaiknya meliputi material untuk pemeriksaan : bakteri (dalam wadah yang steril), virus (pada jaringan biakan yang mengandung antibiotika), histologi (pada formalin atau larutan garam fisiologis).

Material pemeriksaan laboratorium harus diambil dari ayam yang menunjukkan symptom yang khas atau dari bangkai ayam yang baru saja mati. Berbagai transport media yang tepat dan sesuai dengan tujuan pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan dalam hal ini.

Suatu saat sangat diperlukan pengambilan contoh darah dari pemeriksaan serologis. Sedikitnya harus terkumpul 20 contoh darah. Pengambilan contoh darah ulang sangat diperlukan baik untuk melihat adanya jumlah sample yang menjadi positif (misalnya mycoplasmosis) atau kenaikan titer antibodi (misalnya khasus Newcastle Disease, Infectious Bronchitis dan sebagainya).

Secara ideal pemeriksaan darah harus dilakukan segera setelah terjadi wabah dan diulang 2 minggu kemudian. Jika pemeriksaan hanya dilakukan sekali pada 2 -3 minggu setelah serangan penyakit, gambaran jumlah antibodi atau contoh darah yang menjadi positif, hanya mempunyai arti : ayam telah sembuh dari serangan suatu penyakit yang mulai menyerang 10 – 12 hari sebelum contoh darah diperiksa. Hasilnya tidak dapat menyimpulkan bahwa penyakit disebabkan oleh penyebab yang dicurigai atau bukan.

Dalam mengambil contoh darah penting diperhatikan bahwa untuk memperoleh serum darah, spuit tempat contoh darah hanya diisi darah setengah volumenya dan segera diletakkan pada satu sisi tabung spuit. Cara tersebut memungkinkan darah membentuk permukaan yang luas sebelum menggumpal dan serum darah dapat dikumpulkan dari permukaan gumpalan darah tersebut.

Pengambilan Dan Pengiriman Material Untuk Pemeriksaan Laboratorium.

Suatu hal yang perlu diingat bahwa laboratorium hanya mendapatkan keterangan dari material yang dikirimkan. Petugas laboratorium bukan seorang ahli meramal. Sejarah khasus yang lengkap dan ketelitian dalam memilih material untuk pemeriksaan laboratorium akan sangat membantu menyelesaikan pekerjaan laboratorium.

Sedikitnya 6 ekor ayam yang menunjukkan gejala yang khas dikirim ke laboratorium. Jika ada kematian, bangkai yang sudah mati juga harus dipilih untuk dapat dikirim ke laboratorium.

Material bahan pemeriksaan laboratorium sebaiknya selekas mungkin dikirim dan diletakkan pada wadah yang diisi es (dingin).

Beberapa prosedur pemeriksaan laboratorium memerlukan waktu beberapa hari atau minggu untuk mendapatkan keterangan yang selengap-lengkapnya.

Karena itu diperlukan diagnosa sementara dan tindakan pengobatan jika perlu berdasarkan pada hasil pemeriksaan atau keterangan dari peternakan, tanpa harus menunggu penegasan diagnosa dari laboratorium. Pemeriksaan dari laboratorium menjadi sangat penting artinya untuk membedakan beberapa penyakit yang mempunyai gejala atau tanda yang sama. Misalnya gangguan pernafasan yang merupakan symptom dari Newcastle Desease, Infectious Lryngotracheitis, Infectious Bronchitis, CRD, Colibacillosis, korisa, dll.

Hasil pemeriksaan laboratorium harus diketahui oleh klinikus yang nengirmkan material bahan pemeriksaan laboratorium. Hal ini terutama penting untuk tindakan pencegahan.

Keterangan :

Yang dimaksud "khasus" di sini adalah keadaan yang tidak diharapkan yang terjadi di peternakan, misalnya serangan penyakit, pertumbuhan berat badan jelek, konversi ransum tinggi, produksi telur rendah dan sebagainya.

Kategori:Informasi
%d blogger menyukai ini: